|    Diharapkan Kepada Semua SKPD menetapkan Renja Tahun 2017   |     |    Aplikasi Musrenbang Online bisa di akses melalui http://simbang.pinrangkab.go.id   |    

Sejarah Singkat

Asal Usul Nama Pinrang (1)

             Sebagaimana halnya sejarah kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara lainnya yang selalu terlibat dalam kancah peperangan yang senantiasa membawa kerugian dan korban sia-sia. Hanya karena nafsu dan keserakahan kekuasaan kerajaan lainnya dan yang lainnya itu berusaha mempertahankan hak dan negerinya. Peristiwa semacam ini sering pula melanda kerajaan-kerajaan Bugis Makassar

            Tersebutlah suatu peristiwa di Sawitto pada waktu pemerintahan La Paleteang, raja ke IV Sawitto waktu itu. Dimana saat itu terjadi peperangan antara kerajaan Sawitto dengan kerajaan Gowa. Perang ini terjadi oleh karena Gowa sebagai kerajaan yang besar pada waktu itu, berusaha untuk menguasai Sawitto yang subur.

            Berbagai upaya telah digunakan Gowa untuk mewujudkan impiannya, namun tidak berhasil. Maka ditempulah jalan terakhir untuk menguasai Sawitto, yakni dengan jalan agresi. Perang ini berlangsung sekitar tahun 1540.

            Prajurit-prajurit Sawitto dengan gigih mengadakan perlawanan, abdi kerajaan mati-matian mempertahankan dan membela bumi kelahirannya. Korbanpun berjatuhan dari kedua belah pihak, akan tetapi angkatan perang Gowa terlalu besar jumlahnya dan menyerang Sawitto secara tiba-tiba.

            Sehingga, Sawitto tidak mempunyai persiapan yang cukup untuk melakukan perlawanan terhadap serangan prajurit-prajurit Gowa. Akhirnya, benteng kerajaan jatuh ketangan musuh (Gowa). Namun demikian, Sawitto telah membuktikan bahwa mereka tidak mau tunduk begitu saja terhadap musuh. Sikap dan watak yang demikian itu kemudian tercermin pada seorang Pahlawan yang bernama La Sinrang.

            Dengan kekalahan tersebut, raja La Paleteang (sekarang menjadi sebuah ibukota Kecamatan : Kecamatan Paleteang) dan istrinya di bawah ke Gowa sebagai tanda kemenangan Gowa atas Sawitto. Awan hitam menyelimuti Sawitto kala itu, yang selama ini tenteram, rakyat diliputi kesedihan atas kepergian sang raja yang arif dan bijaksana.

            Mereka tidak dapat membayangkan perlakuan yang bakal dihadapi rajanya (La Paleteang). Upaya membebaskan beliau senantiasa menjadi bahan pembicaraan pemuka-pemuka kerajaan Sawitto. Di dalam suatu musyawarah, kerajaan Sawitto mengutus dua orang to barani (orang pemberani) ke Gowa untuk membebaskan raja Sawitto bersama permaisurinya.

            Pilihan kepada dua orang to barani itu, jatuh kepada To Lengo dan To Kipa untuk mengemban tugas yang amat berat. Setelah persiapan kedua utusan itu rampung, merekapun berangkat mengarungi samudra yang penuh dengan tantangan alam dengan satu tekad, yakni raja harus dibawah pulang kembali ketanah Sawitto (Sekarang ibukota Kabupaten Pinrang).

            Setelah kedua To barani ini berlayar selama dua hari, sampailah mereka di Gowa. Sesampainya di tanah raja Gowa, kedua orang ini langsung menuju istana, tetapi betapa terkejutnya menyaksikan rajanya yang banyak mengalami perubahan, raut wajahnya jelas terbayang kerinduan yang teramat dalam terhadap rakyatnya.

            Mendidih darah kedua to barani utusan raja Sawitto ini melihat kondisi rajanya, yang kemungkinan mendapat perlakuan yang kurang pantas sebagai seorang raja. Tetapi mereka sadar bahwa tujuannya adalah membebaskan rajanya. Kemudian menghadap kepada Sombae atas nama rakyat Sawitto yang telah dikalahkan Gowa.

 

Pinrang Berasal Dari Kata Pinra-Pinra (2)

 

Sesuai dengan keputusan Sombae, bahwa Sawitto harus tunduk dan membayar upeti setiap tahun kepada kerajaan Gowa. Walaupun, hati kecil kedua to barani utusan rakyat Sawitto untuk membebasakan raja bersama istrinya. Tidak dapat menerima keputusan itu, tetapi mereka berpura-pura menerimanya sebagai siasat untuk keberhasilan tugasnya,

            Dengan siasat ini To Lengo dan To Kipa mendapat kebebasan untuk berhubungan dan mengatu persiapan pelariannya bersama raja Sawitto dan Istrinya. Namun, sebelum melakukan niatnya itu, terlebih dahulu melubangi perahu-perahu armada kerajaan Gowa, dengan maksud perahu tersebut akan tenggelam bila prajurit Gowa mengejar disaat pelariannya.

            Setelah merasa aman dan yakin akan keberhasilannya membawa raja Sawitto (La Paleteang raja ke IV). Disaat orang sibuk dengan tugasnya masing-masing, maka kelengahan ini dimanfaatkan untuk berangkat. Rupanya ada abdi kerajaan yang mengetahui kepergian mereka. Abdi inipun melaporkan peristiwa tersebut kepada Sombae raja Gowa.

            Dengan murka Sombae memerintahkan hulubalang melakukan pengejaran, tetapi pengejaranpun sia-sia, karena semua perahu  kemasukan air melalui lobang oleh strategis To Lenga dan To Kipa yang melobangi perahu itu.

            Alangkah gembiranya kedua To barani ini dalam menunaikan tugasnya, serta tidak membayangkan betapa gembiranya rakyat Sawitto yang selama ini merindukan rajanya. Setelah beberapa hari berlayar, sampailah mereka ke Wilayah Suppa (sekarang Kecamatan Suppa) yang merupakan sekutu kerajaan Sawitto. Setelah istrihat sejenak, raja melanjutkan perjalanannya ke Sawitto. Kedatangan yang mulia raja La Paleteang beserta istrinya disambut dengan luapan kegembiraan.

            Sepanjang jalan dieluk-elukkan, diarak menuju istana raja. Akan tetapi,  dibalik kegembiraan rakyat itu, mereka juga terharu menyaksikan rajanya yang banyak mengalami perubahan seraya mengatakan, “ Pinra kanani tappana Addatuang pole ri Gowa “ artinya “ Wajah Addatuang (raja) agaknya mengalami perubahan setelah kembali dari Gowa “.

            Kata-kata inilah yang senantiasa terlontar dari orang-orang yang menyertai rombongan raja. Sebelum raja sampai di istana beliau singgah sejenak, sambil berpesan kepada orang-orang yang mengantarnya, bahwa namakan tempat ini “ Pinra-Pinra “.

            Sementara sumber lain mengatakan, bahwa kandisi pemukiman di sekitar kota Pinrang sekarang, dahulunya selalu tergenang air karena daerah rawa-rawa. Sehingga, masyarakat berpindah-pindah mencari pemukiman yang tidak tergenang air. Berpindah-pindah atau berubah-ubah pemukiman, dalam bahasa bugis disebut “ Pinra-pinra Onroang “. Setelah kelompok masyarakaat tersebut menemukan tempat pemukiman yang baik (kota Pinrang sekarang), maka mereka memberi nama tempat yang baru itu “ Pinra-pinra”.

            Dari kedua peristiwa yang berbeda ini, melahirkan istilah yang sama yaitu kata “ Pinra “. Kemudian dalam perkembangannya dipengaruhi oleh intonasi dan dialek bahasa bugis, sehingga menjadi kata Pinrang, yang sekarang diabadikan nama sebuah Kabupaten dari bekas kerajaan Sawitto, yaitu Kabupaten Darah Tingkat II Pinrang, 182 km arah utara Makassar,

 

Arti Nama Pinrang :

 

            Bahwa pmberian suatu nama senantiasa mempunyai arti dan makna yang merupakan pencerminan dari nama itu sendiri. Demikian pula halnya nama pinrang yang berasal dari bahasa bugis yaitu , kata “ Pinra “ yang secara etimologi bahasa akan berarti “ Perubahan “. Akan tetapi jika dilihat dari latar belakanglahirnya istilah “ Pinra “ tersebut, maka ada beberapa makna yang terkandung didalamnya yaitu :

 

  1. Bahwa nama Pinrang lahir dari suatu peristiwa heroic, dimana putra-putra terbaik Sawitto memperlihatkan sikap dan wataknya dalam membela negerinya.
  2. Adanya usaha kemampuan Sawitto membebaskan rajanya tanpa menunggu belas kasihan dari kerajaan.
  3. Adanya dinamika masyarakat Pinrang sejak dahulu, hal ini terbukti dengan usaha masyarakat mencari pemukiman yang baik dimasa lalu

Dengan demikian pengertian nama Pinrang yang berasal dri istila Pinra adalah adanya dinamika social dari masyarakat sepanjang sejarahnya, baik dari segi maupun tatanilainya.

Pinrang Sebelum Abad XX (3)

             Sesungguhnya sejak dahulu kala, daerah Pinrang telah didiami oleh penduduk asli, walaupun secara pasti, belum dapat dideteksi kapan daerah Pinrang ini (Sawitto) pertama kali dihuni oleh manusia. Ada anggapan, bahwa penduduk asli daerah Pinrang, justru dari sebuah kampong kecil tertua yang terletak dibagian utara Pinrang,

            Daera utara Pinrang yang dimaksud adalah “ Kaballangan “. Selain itu, tercacat dalam sejarah, bahwa dibeberapa wilayah Pinrang justru pertama kali dihuni oleh para pendatang, terutama yang berasal dari daerah-daerah perbatasan langsung dengan daerah Pinrang, seperti Enrekang dan Tanatoraja.

            Mengenai penduduk yang berasal dari Enrekang tercatatlah suatu peristiwa, bahwa pada abad XVI, La Mappatunru, anak laki-laki Bissu Tonang, aru Enrekang. Disuatu hari, berangkat ke kampong ayahnya, yaitu Sawitto Timoreng Saddang (Bagian Timur Sungai Saddang yang membelah Kota Pinrang).

            Untuk menghindari kejenuhan di Kampung yang sepi itu, disuatu pagi yang cerah, ia bersama temannya lalu menyeberang ke daerah Sawitto Wattang Saddang (Bagian barat Sungai Saddang). Setibanya di pesisir pantai daerah Pinrang bagian barat). Ia  lantas terpesona memandang bentangan laut yang seakan tak bertepi dan hamparan tanah datar yang begitu luas (suatu pemandangan yang tak pernah dujumpainya di Enrekang sebelumnya).

            Setelah La Mappatunru kembali ke Enrekang, ia lalu mengajukan usul kehadapan ibundanya agar dapat diizinkan untuk membuka tanah dan menetap didaerah Pinrang bagian barat. Ibundanya merenungkan usul La Mappatunru itu dengan matang, maka diperbolehkan dan melepaskan kepergiannya (La Mappatunru). Walau dengan hati yang amat berat.

            Dengan izin ibundanya itu, lalu berangkatlah bersama rombongannya, dan membawa 40 ekor kuda, beberapa ekor kerbau serta beberapa bibit tanaman seperti Wijen (Bahasa bugis wijen adalah Langnga), keladi (Bugis Kaladi), Ubi (bugis Lame). Dengan berbekalnya itu La Mappatunru bersama rombongan berangkat menuju ke pantai barat Sawitto.

            Didaerah baru tersebut, La Mappatunru bersama rombongannya membuka tanah perkebunan, dan menanam semua bibit tanaman yang dibawah dari Enrekang. Beberapa tahun kemudian, tanah perkebunan tersebut dirobah menjadi areal persawahan. Lalu, sawah bekas kebun keladi dinamakan Pakkaladiang. Bekas kebun ubi (Lame) dinamakan kampong Pallameang dan bekas kebun wijen (langnga) dinamakan kampung Langnga yang sekarang Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang.

            Sedangkan penduduk yang berasal dari Tanatoraja mendiami daerah Pinrang bagian utara. Hal ini mudah dimengerti, oleh karena wilayah Pinrang bagian utara langsung dengan daerah Tanatoraja. Bahkan, Simbuang yang notabene kini merupakan bagian wilayah kerajaan Sawitto, walaupun secara geografis dan cultural memang termasuk wilayah Tanatoraja. Dengan demikian penduduk Pinrang khususnya disekitar Lembang, memperguakan bahasa Pattinjo, yaitu bahasa campuran antara Tanatoraja dengan bahasa bugis.

 Asal – Usul raja dan Kerajaan

 Asal usul raja atau kerajaan yang pernah ada di wilayah Pinrang, terdapat dua versi. Pertama, bahwa kerajaan-kerajaan tersebut berasal dari kerajaan Tanatoraja. Kedua, bahwa kerajaan-kerajaan berasal dari kerajaan Bone

            Perlu diketahui bahwa, berdasarkan metologi orang-orang bugis, maka zaman dahulu terdapat enam Tomanurung (manusia tak dikenal) yang bertugas sebagai penyebar kedamaian dan ketentraman serta penyambung keturunan, yaitu yang diturunkan di Bone, Gowa, Luwu, Tanatoraja, Sawitto dan Mandar.

            Dalam kaitan asal-usul dan penduduk dan kerajaan, kiranya perlu pula dicatat, bahwa pada abad XIV, La Bangenge Tomanurung Bacukiki melakukan perjalanan kea rah utara untuk mencari wilayah potensial bagi kehidupan keturunannya. Lalu ditemukanlahbanyak orang melakukan aktivitas kehiodupan sehari-hari, sehingga ia mengatakan “ Saweto tauwe rini “ artinya banyak juga orang disini.

            Ini adalah awal lahirnya nama (Sawitto) untuk daerah Pinrang. Besar dugaan bahwa orang banyak yang ditemukan Labangenge tersebut, adalah penduduk asli Sawitto. Seperti diketahui, Labangenge adalah raja Sawitto yang pertama.

 Kerajaan-Kerajaan di Pinrang dan Limae Ajattapareng (4)

             Kerajaan yan dahulu dan sekarang termasuk wilayah Pinrang adalah, Sawitto, Batulappa, Kassa, Suppa dan Alitta. Kerajaan ini senantiasa diwarnai oleh kerajaan sama yang baik. Namun, lebih dari itu, kerja sama yang lebih menonjol adalah diwujudkan melalui perjanjian persekutuan lima Ajattappareng yang meliputi kerajaan Sawitto, Suppa, Sidenreng, Rappang, Alitta, yang diadakan di Suppa pada abad XV,            Kenyataan menunjukkan, bahwa walaupun kerajaan Batulappa dan Kassa bukan merupakan peserta perjanjian persekutuan “ Lima Ajattappareng “, namun hal ini bukan merupakan perintang terjalinnya hubungan yang mantap antara kelima kerajaan yang tergabung dalam persekutuan tersebut. Bahkan, justru kenyataan inilah yang turut menyulut semangat kerja sama yang erat dalam segala bidang termasuk bidang pertahanan dan keamanan antara persekutuan lima Ajattappareng.dan kelompok kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Masserengpulu, dimana Batulappa dan Kassa termasuk didalamnya.

            Semangat kerja sama yang erat dalam segala bidang, termasuk bidang pertahanan dan keamanan antara persekutuan lima Ajattapareng dan Massenrengpulu tercermin pada prinsip masing-masing. Prinsip tersebut adalah “ Mate ele’I Sawitto mate arewengngi Massenrengpulu, mate ele’I Massenrengpulu mate arewengngi Sawitto “.

            Tenti saja titik berat prinsip ini lebih ditekankan pada dimensi pertahanan, yang berarti apabila Sawitto mendapat serangan dari luar, maka masyarakat Massenrengpulu tidaklah tinggal diam. Begitu pula sebaliknya, apabila masyarakat Massenrengpulu mendapat serangan dari luar maka Sawittopun ikut membantu.

           Prinsip tersebut, yang berbunyi “ jika Sawitto hancur di pagi hari, masyarakat Massenrengpulu binasa diambang senja. Jika Massenrengpulu binasa dipagi hari, maka Sawitto hancur diambang senja “. Prinsip ini indikasinya tak lain adalah kerelaan mengorbankan segala-galanya demi kepentingan perdamaian dan ketertiban bersama.

            Perlu pula diketahui bahwa, raja-raja yang memimpin lima kerajaan Ajattappareng, merupakan keturunan dari kerajaan Bone. Kelima raja tersebut adalah bersaudara. Yang tertuaa memimpin kerajaan Sidenreng dan yang termuda (bungsu) memimpin kerajaan Alitta, yang dahulu dikenal dengan nama  “ Aditta “ yang berarti, adik kita.

            Sedangkan untuk kerajaan-kerajaan dalam wilayah Pinrang dengan sendirinya kerajaan Sawittolah yang dipimpin oleh raja tertua disbanding dengan kerajaan-kerajaan lainnya yang ada di wilayah Pinrang. Dengan demikian, mudah dipahaami kalau kerajaan Sawitto memiliki otoritas tersendiri terhadap kerajaan-kerajaan lain yang dalam wilayah Pinrang.

            Apabila hubungan antar kerajaan-kerajaan yang ada dalam wilayah Pinrang, khususnya dan Lima’E Ajattapareng pada umumnya, didasarkan pada semangat kekeluargaan dan persaudaraan.

Namun demikian, bahwa masing-masing kerajaan yang ada dalam wilayah Pinrang tersebut, mempunyai kebebasan atau kemerdekaan penuh serta otonomitas dalam mengendalikan dan mengatur rumah tangga kerajaannya tersendiri..Hal ini, tercermin dalam ungkapan bahasa bugis “ Napuade’I Ade’na Napubicara’I Bicaranna “ maksudnya, bahwa kerajaan-kerajaan tersebut, masing-masing memberlakukan kebiasaan atau hokum serta serta kebijaksanaan secara ekselusive.

Hubungan Antara Kerajaan Dalam Wilayah Pinrang (5)

             Hubungan antara kerajaan-kerajaan dalam wilayah Pinrang khususnya, dan persekutuan limae Ajattapareng pada umunya, tidak pernah diretakkan oleh suatu perselisihan yang berarti,

            Hubungan yang dilandasi persatuan lahir bathin tersebut diungkapkan dalam istilah “ Mabbolasilellang Nalima Bili “ artinya, bahwa  satu rumah dengan lima kamar, maksudnya, persekutuan Lima’E Ajattapareng diandaikan sebuah rumah yang mempunyai lima kamar. Logikanya, bahwa sebuah rumah bukanlah kumpulan beberapa kamar, melaingkan bahwa dalam sebuah rumah, biasanya dibuat beberapa kamar. Jadi, persekutuan lima’E Ajattapareng pada prinsipnya adalah sati entitas yang dikapling menjadi lima bagian dengan tujuan mengefektifkan pengorganisasian/ pemerintahan kerajaan.

            Dengan demikian, apabila  satu diantara kelima kerajaan tersebut mengalami kesulitan, maka semuanya ikut prihatin.  Hubungan berdasarkan moral ini memungkinkan terciptanya keterbukaan hati dan kebesaran jiwa sesuai kondisi alam dan pikiran pada zamannya.

            Hal ini terlihat dalam suatu peristiwa yang nyaris menimbulkan bentrokan berdarah antara kerajaan Sawitto dengan kerajaan Suppa, dimana yang memicu kejadian ini adalah ketika Wapasulle Daeng Bulaeng Datu Bissue Addatuang Sawitto ke IX yang juga merangkap Datu Suppa serta yang mula-mula menerima agama Islam secara resmi tahun 1609 Masehi meninggal dunia.

            Kerajaan suppa kala itu bertekad mengambil mayat tersebut untuk dikebumikan di Suppa. Sementara kerajaan Sawitto tidak mau menyerahkan mayat itu, walaupun dengan reziko apapun. Melihat keadaan yang amat kritis ini, Arung Alitta suami almarhumah menawarkan alternative yang amat bijaksana, yaitu jenazah tersebut dimakamkan di Sawitto, tapi warga kerajaan Supa yang menimbuni kuburan dengan tanah dari kerajaan Suppa.

            Kebijaksanaan ini dianggap amat adil, sehingga diterima semua pihak. Maka berjejerlah warga kerajaan Alitta dan Suppa bagaikan pagar betis yang membentang dari Suppa sampai Sawitto. Itulah sebabnya Wepasulle setelah mangkat digelar “ Matinroe Rimala “ yaitu “ Mala tana ri Suppa ri timbungi goro’na “ artinya mengambil tanah timbunan dari Suppa.

            Hubungan antara kerajaan-kerajaan yang terdapat dalam wilayah Pinrang berlangsung dengan baik hingga belanda mulai menancapkan kuku kulonialismenya. Pada bulan Agustus 1824 pasukan belanda dibantu oleh pasukan angkatan laut Barru dan Sidenreng, menyerang kerajaan Suppa yang hanya 400 pasukan infantry dan 300 pasukan kuda. Ketika itu Suppa mendapatkan bantuan dari Sawitto Rappang dan Alitta dengansemangat persatuan yang membara dan jiwa kepahlawanan yang membaja akhirnya pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan dihalau oleh ketiga kerajaan tersebut

 Hubungan Luar Kerajaan Sawitto (6)

             Pada bagiaan terdahulu telah dipaparkan mengenai keterkaitan antara kerajaan Sawitto dengan kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Limae Ajattapareng, hubungan yang dikondisikan oleh factor geografis, keturunan, perkawinan, social budaya ekonomi, dan sebagainya. Hubungan yang digambarkan itu juga terjalin antara kerajaan Sawitto dengan kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan “ Massenrengpulu “ yaitu Enrekang, Maiwa, Kassa, Batulappa dan Duri,

            Sejak dahulu kala kontak perdagangan dalam bentuk barter berbagai komoditi telah berlangsung antar kedua belah pihak. Kerajaan Sawitto mengekspor beras kepersekutuan Massenrengpulu, maka Massenrengpulu mengekspor sayur mayor dan buah-buahan ke kerajaan Sawitto.

            Dalam aspek politik pertahanan, hubungan kerajaan Sawitto dengan persekutuan Massenrengpulu, juga terjalin erat. Pada abad ke XV, Latemmanroli bertahta sebelum kerajaan Sawitto menerima Islam (1609). Diperkirakan akhir abad XVI sebab pemerintahannya peralihan Anemisme ke agama Islam. Addatuang Sawitto mengadakan  pesta judi Sawitto yang dihadiri oleh bangsawan Sulawesi Selatan termasuk dari kerajaan Gowa.

Karena setiap lewat didepan istana kerajaan Sawitto, bangsawan Gowa selalu memandang istri Addatuang Sawitto dengan pandangan yang melanggar adapt, maka pengawal istana melaporkan hal ini kepada Latemmaroli Addatuang Sawitto. Addatuang Sawitto memanggil Arung Batulappa dan meminta seorang yang berani membunuh bangsawan Gowa itu.

Arung Batulappa, lalu menunjuk cola-colana malong untuk membunuh bangsawan itu. Iapun berangkat menuju pesta judi, kemudian cola-colana malong berpura-pura meminta tembakau dari seseorang yang berdiri berhadapan dengan bangsawan Gowa didepan pintu masuk pesta judi.

Tidak terduga, cola-colana malong langsung menusukkan badiknya kebagian perut bangsawan Gowa itu hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir. Segera setelah itu, cola-colana malong dengan suara keras menyampaikan kepada pengawal bangsawan Gowa bahwa bangsawan Gowa yang telah dihabisi nyawanya, telah melanggar adapt Sawitto karena mau mengganggu istri Addatuang Sawitto.

            Beberapa berselang kejadian tersebut, datanglah tentara Gowa menyerang Sawitto. Latemmanroli Addatuang Sawitto tertangkap dan dibawah ke Bone bersama istrinya. Istana addatuang Sawitto bernama mancapai yang keramat itu dibongkar oleh tentara Gowa. Tiang tersebut lalu dibawa pergi melalui laut.

            Tetapi tidak jauh dari pantai perahu itu tenggelam bersama tiang mancapai itu. Menurut kepercayaan dahulu orang-orang Sawitto, Tiang mancapai sering muncul dilaut dengan memperlihatkan cahaya merah, dan ini pertanda, bahwa hasil padi akan melimpah ruah.

            Waktu itu, Mappasengka, suami P. Takkebuku Aru Enrekang beserta tentaranya, berangkat ke Sawitto membantu Addatuang Sawitto dan seluruh rakyatnya, maka ia lalu menuturkan pernyataan dalam bahasa bugis “ Naia tanra appadaoroanengenna Enrekang sibawa Sawitto, Narekko nakenna ele’I sussa Enrekang turung arewengngi Sawitto. Narekko nakenna arewngngi sussa Sawitto turung ele’I Enrekang “.

            Artinya, sesungguhnya bukti persaudaraan Enrekang dengan Sawitto bahwa Enrekang terancam bahaya di pagi hari. Maka Sawitto berangkat di sore hari. Apabila Sawitto terancam di sore hari. Maka Enrekang berangkat di pagi hari.

            Menyambut pernyataan tersebut, anggota haddat Sawitto berkata “ Narekko nakennai sussa Enrekang Mappattui oli koli’E naola to SawittoE menre ri Enrekang turungngi silessurenna. Narekko nakennai sussa Sawitto maddarumpui labbu’E mareppa’I bacu-bacu’E naola to EnrekangngE no’  ri Sawitto sibawa Enrekang “ 

            Artinya, Apabila Enrekang terancam bahaya, maka orang-orang Sawitto bergegas menuju Enrekang untuk membantu saudara-saudaranya. Apabila, Sawitto terancam bahaya, maka orang-orang Enrekang pun segera menuju Sawitto membela Sawitto, sebagai tanda persaudaraan antara Enrekang dengan Sawitto.

            Selain itu, hubungan antara kerajaan Sawitto dengan kerajaan Enrekang, Belawa, Makale, Baroko, juga terjalin demikian eratnya melalui perjanjian yang disepakati bersama pada tahun 1312 yang dinyatakan dalam bahasa bugis “ Naiya idi’ limae massilessureng sisumpung loloki narimakkuannaro natapada makkadao risaliweng tasi akkadoang rilaleng sirebba tangnga’mi’ tassirebba apasaureng tassikapellangeng warangparang tassitaroang rupa ampekka nasitana tanaiki’ malilu sipakainge’ rebba sipatokkong mali’ siparappe sisanresengki’ tassibelena g, si watang menre’ki’ tassiwatan no riawa, silase’ tedong laiki’ tessiteppereng tanru’ tedongki’ tassi rebba ade’ki tenna bicaraki tau risaliweng, siatuo bakkemanu’ki’  pada-pada madeceng pada-pada maja’ pada-pada tuo padap-pada mate, mau toni maruttung langi’e temma sara appadaoroanengngetta

Artinya, sesunguhnya kita yang lima bersaudara adalah satu keluarga. Oleh karena itu, kita memiliki hak kita masing-masing, dan meniti pada haluan kita msing-masing, serta mempererat hubungan dan kekompakan kita. Tumpuan kita hanya musyawarah dan bukan power atau kekuatan. Saling memberi bantuan material, saling memelihara harkat dan citra, saling mempertemukan pendapat, saling mengingatkan, saling membangkitkan, saling mengulurkan tangan. Kekuatan kita berdampak keatas dan bukan kebawah. Senantiasa mencari titik persamaan dan tidak memperbesr perbedaan. Pantang menyerah dalam perjuangan. Tidak salingmemaksakan kehendak. Tidak menjadi bahan gunjingan orang luar, senasib sepenanggungan. Sehidup semati. Walaupun langit akan runtuh, tak kan putus tali persaudaraan kita.

 Kerajaan Sawitto Salah Satu Pusat Pertahanan Di Sulsel (7)

 Dalam penjajahan Belanda pun hubungan kerajaan Sawitto dengan Massenrengpulu sedemikian erat, dimana pada saat itu, Massenrengpulu sering dijadikan benteng terakhir oleh kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan lima Ajattappareng dalammenentang penjajah,

Sejarahpun membuktikan bahwa sering kali La Sinrang lolos dari kejaran Belanda, hanya karena mendapat suaka dari kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Massenrengpulu. Kerajaan Sawitto juga telah lama menjalin hubungan dengan kerjaan Gowa. Hubungan ini ipermudah lahirnya hubungan perkawinan/keturunan. Ini terlihat Raja Gowa I Makkulau Karaeng Lembang Parang Sultan Husain, permaisurinya adalah I Tanri Paddenreng Arung Alitta putrid raja Bone La Parenrengi Arung Ugi matinroe Ri Ajabenteng. Demikian seterusnya hubungan kedua kerajaan, walaupun sebelumnya kerajaan Sawitoo pernah ditaklukkan oleh kerajaan Gowa pada saat itu raja Sawitto adalah Addatuang La Paleteang.

Hubungan kerajaan Sawitto dengan kerajaan Bone juga telah terjadi hubungan perkawinan atau keturunan. Hal ini, dapat dibuktikan pada tahun 1812 La Kuneng Arung Belawa, berangkat ke Bone mengikuti sayembara berburu rusa. Setelah sayembara tersebut dimenangkan, maka hadianya La Kuneng mempersunting puteri mahkota Raja Bone. Sekaligus dinobatkan menjadi raja Sawitto XVII.

Oleh karena di Sawitto pada sat itu terjadi “ vacuum of Power “ sedangkan raja Bone Arung Palakka tidak setuju kalau mendiang raja Sawitto digantikan oleh saudaranya La Wawo dari Sidenreng yang sangat berambisi menggantikannya.

Hubungan anatara kedua raja tersebut dilukiskan dalam peristiwa pada abad XVII To Dani raja Sawitto yang juga Arung Ajattapaareng di tuduh akan melancarkan Coup d’etat atas pemerintahan kerajaan Bone dibawah kekuasaan Arung Pone/Petta MalampaE Gemme’na. Arung Palakka lalu dikejar oleh pemerintahan kerajaan setelah melarikan diri ke daerah Mandar.

Penguasa di Mandar pada saat itu menolak memberikan suaka kepada To Dani bahkan ia diusir. Karena takut diserang kerajaan Bone. To Dani, akhirnya melarikan diri ke Pulau Salemo. Disanalah To Dani ditangkap, kemudian dicekik lehernya sampai mati, maka ia digelari “ Mattiro ri Salemo “.

Selain itu, hubungan kerajaan Sawitto dengan kerjaan Bone adanya istilah “ Saleppang Sampi ‘ yang menunjukkan status dan kedudukan sebagai “ Salempang Sampu “. Maka kerajaan Sawitto bertugas mengadakan persiapan dalam bidang logistic/material apabila kerajaan Bone terlibat dalam peperangan, atau upacara-upacara kerajaan besar.

Sedangka kerajaan di Sidenreng melakukan persiapan dalam bidang persenjataan, yaitu dalam kedudukannya sebagai “ Salempang Kanna “. Dengan demikian kerajaan Sidenreng wajib ikut berperang bersama dengan angkatan perang kerajaan Bone. Kewajiban mana tidak dibebankan pihak kerajaan sawitto. Secara sepintas, bahwa kerajaan Sawitto merupakan bawahan dari kerajaan Bone (Hubungan sub ordinat). Akan tetapi, kerajaan Bone tidaklah memandang Sawitto sebagai kerajaan taklukannya, melaingkan hubungan kedua kerajaan tersebut didasarkan atas prinsip kekeluargaan yang dikenal dengan istilah “ Lili Passijingeng “.

Hubungan berlangsung terus, hingga Belanda mulai melancarkan penjajahannya di Sulawesi Selatan. Ketika Belanda memasuki Ibukota kerajaan Bone, ternyata kota tersebut sudah kosong. Pada tanggal 9 Desember 1859, letnan Jenderal Van Swieten berangkat dengan Batalion Infantri XI dan beberapa pasukan kavaleri menuju di Passempa, ternyata Passempa pun telah kosong, karena raja Bone Besse Kejuara telah berangkat ke Sawitto.

Hubungan tersebut kedua kerajaan tersebut dapat juga dilihat pada waktu Andi Mappanyukki Sultan Ibrahi raja Bone ke 31, pergi ke Sawitto dan Alitta bersama dengan ayahnya raja Husain, beliau menjadi Datu (raja) Suppa dan kawin dengan Arung Alitta. Melihat hubungan kerajaan Sawitto dengan kerajaan lain di Sulawesi Selatan, terutama pada zaman penjajahan Belanda, maka kerajaan Sawitto merupakan salah satu pusat pertahanan di Sulawesi Selatan.

 

Pinrang Setelah Memasuki Abad XX (8)

 Zaman Penjajahan Belanda

Kerajaan Sawitto yang merupakan salah satu pusat pertahanan beberapa kerjaan di Sulsel, seperti kerajaan Bone, Gowa, Wajo dan Soppeng. Sementara La Sinrang melakukan perlawanan terhadap Belanda di kerajaan Sawitto dilatar belankangi oleh beberapa factor yakni, factor politik, ekonomi, social budaya,            Selain beberapa kerajaan di Sulsel yang menjadikan pusat pertahanan di Sawitto, begitu pula dengan Belanda. Hal ini yang menimbulkan benih-benih pertentangan yang membawah akibat terjadinya pertarungan. Melihat hal tersebut, La Sinrang, mempertahankan nama baik ayahanya sebagai Addatuang, serta ingin lepas dari imperialisme dan kolonialisme Belanda.

            Karena itu, La Sinrang tidak setuju dengan isi perjanjian Bongaya yang diperbaharui. Karena perjanjian tersebut berpengaruh terhadap kerajaan Sawitto. Isi perjanjian Bongaya yang tidak disetujui La Sinrang adalah. Pertama, Gubernur Hindia Belanda diakui sebagai sekutu selain dari persekutuan (Bondgenoge-otschap).

            Kedua perjanjian yang tidak disetujui La Sinrang adalah, tidak ada kedaulatan di antara anggota-anggota sekutu selain dari saudara tua (Gubernur Hindia Belanda). Ketiga, anggota-anggota sekutu memandang musuh-musuh dari Gubernemen sebagai memuh-musuhnya dan sahabat-sahabatnya dari Gubernemen sebagai sahabat-sahabatnya. Dan Keempat, adalah keputusan mengenai perselisilihan-perselisihan diantara anggota sekutu ada pada Gubernemen dan lain-alin.

            Ini mempunyai pengaruh negative terhadap kerajaan Sawitto dan kerjaan lainnya, dimana kerjaan Sawitto tidak boleh melakukan sesuatu tanpa perintah dari Pemerintah Hindia Belanda atau dengan kala lain kerajaan Sawitto tunduk kepada Belanda.

            Pemegang kekuasaan serta yang menentukan beberapa hal penting dalam kerajaan, bukan lagi raja setempat tetapi adalah Pemerintah Hindia Belanda, sehingga kewenangan raja sudah berkurang.

            Pada waktu Belanda memasuki kerajaan Sawitto, Addatuang Latamma bersama aparatnya, sekalipun mempunyai kewenangan dalam Pemerintah rakyatnya, namun ide dalam menjalankan pemerintahan itu datang dari pihak Pemerintah Hindia Belanda. Ini dapat dilihat adanya control yang diadakan oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap Pemerintah kerajaan. Pelaksanaan control atau kentroleur ini biasa juga disebut Tuan Petoro.

 

Faktor Ekonomi

            Dengan adanya peperangan yang dihadapi Belanda di Indonesia, membutuhkan biaya tidak sedikit sehingga mengharuskan Pemerintah hindia Belanda mengusahakan pemasukan keuangan yang intensif. Pemasukan keuangan ini diharapkan oleh Belanda adalah dari rakyat Indonesia, termasuk rakyat yang mendiami Bumi Sawitto.

            Dimana Belanda mengharuskan kerja paksa kepada rakyat Indonesia, seperti pembuatan jalan, bendungan, jembatan. Belanda juga memeonopoli perdagangan, sehingga terjadi kemiskinan dan kemelaratan rakyat. Rakyat harus membayar bermacam-macam pajak dikenal dengan istilah Sima/rente tanah dengan penagihan yang sangat keras, begitu juga dengan pajak lainnya.

           Faktor Sosial Budaya

Zaman penajajhan Belanda, pandangan Belanda terhadap orang-orang pribumi adalah sangat rendah baik itu terhadap Bangsawan maupun rakyat. Pandangan dan sikap Belanda inilah membuat timbulnya perasaan sakit hati dikalangan bangsawan dan masyarakat Sawitto.

La sinrang sebagai salah seorang keturunan bangsawan bangkit untuk memulihkan keadaan dengan jalan mengadakan perlawanan. Rasa kebencian/ketidaksenangan La sinrang terhadap penjajahan Belanda “ Tea memang toi riparenta ri BelandaE “ artinya “
 Memang tak mau diperintah oleh Belanda “. Hal ini menggambar keteguhan La Sinrang dalam mengadakan perlawanan demi terbebasnya masyarakat Sawitto dari penindasan orang-orang Belanda.

Sistem penggalangan dilakukan La sinrang dengan mengajak rakyat untuk bersatu membentuk pasukan “ Passiuno “ merupakan pasukan berani mati, tidak mengenal mundur apalagi menyerah, baik dari pusat kerajaan Sawitto maupun yang dibentuk dikampung-kampung untuk memperkuat pertahanan.

Pasukan Passiuno di kampong dipimpin seorang “Tolo” (pemberani) yang diberi nama sesuai ayam jago yaitu : Calabai Tungka’na Alitta, koro-korona Madallo, Balibinna Kaballangeng, Boribori’na Paleteang, Bulusiruana Suppa, Laya Bilulang Rakkona Lome, Koro Passena La Banta, dan Cambang Bilulang Wanuae. Sedangkan La Sinrang diberi gelar “ Bakka Lolona Sawitto “.

 

Perlawanan La Sinrang (9)

             Taktik yang digunakan La Sinrang dalam melakukan perlawanan dengan bergerilya dimana penyerangan itu dilakukan pada saat musuh sedang beristirahat, kemudian mundur kembali. Perang gerilya ini dilakukan oleh rakyat dari pasukan La Sinrang dengan penuh kepatuhan terhadap perintah La Sinrang sebagai panglima perang penuh wibawa dan tanggung jawab.

            Perlawanan yang dilakukan oleh La Sinrang untuk melawan Belanda bekerja sama kerajaan-kerajaan lain. Bergabungnya patriot Sidenreng dan Rappang di kerjaan Sawitto, antara lain Petta Ponggawae yang meninggal dunia tahun 1906, La Noni gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran di Tellang-tellang tahun 1906, La Pakkanna gugur membela kehormatan pertempuran dekat Carawali 1906.

            La Sinrang juga bekerja sama dengan kerajaan Massenrempulu dalam melakukan perang gerilya dan beberapa kali La Sinrang mengamankan diri di Massenrengpulu. Massenrengpulu pulu juga terlibat membantu La Sinrang dalam melakukan perlawanan di kerajaan Ajattapareng bulan Desember 1905.

            Kerja sama dengan Arung-arung kecil dengan dibentuknya pos-pos kecil seperti pertahanan di Alitta, Suppa, Tiroang, Talabangi, Leppangeng, Kassa, Cempa, Langnga, Jampue, Kaballangeng.

 

Basis Pertempuran La Sinrang.

Serangan pertama kali dilancar Belanda pada tahun 1903 melalui Jampue dengan bermaksud untuk menyerang pusat kerajaan Sawitto, pada waktu itu diperintah oleh Addatuang Sawitto La Tamma pada tahun 1873 s/d 1912.

            Menurut susunan raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Sawitto, La Tamma tercatat sebagai raja ke 22, namun merupakan Addatuang ke 7 setelah kerajaan Sawitto kembali bersatu dari perpecahan (Sawitto barat dan Timur).

            Masuknya Belanda di kerajaan Sawitto tahun 1904 ternyata mendapat sambutan dari kerajaan Sawitto yang telah siap untuk itu, sehingga terjadilah perang sengit, sekalipun pada akhirnya Belanda berhasil menduduki Benteng JampuE.

            Perjalanan pasukan Belanda ke pusat kerajaan Sawitto mendapat perlawanan seru dari pasukan La Sinrang, dan ini merupakan perlawanan La Sinrang yang pertama kali terhadap Belanda di Tanre Assona. La Sinrang ketika itu memiliki kurang lebih 20 pucuk senjata dengan jumlah pasukan sekitar 250 orang lengkap denngan peralatan perang (Tombak, pedang, keris dan lain-lain).

            Dalam pertempuran tersebut La Sinrang berhasil memukul mundur pasukan Belanda sampai ke daerah Labumpung. Hal ini membuat pasukan Belanda jatuh semangat, karena tidak diperhitungkan sebelumnya.

            Strategi pasukan La Sinrang dengan membentuk pagar memanjang dari barat ke timur lewat RubaE. Strategi ini tidak dapat ditembus oleh pasukan Belanda, sehingga membelok ke jurusan Alitta, namun Alitta sudah kosong. Dimana pasukan Alitta dibawah pimpinan La Nennung berangkat meninggalkan Alitta untuk menghadang pasukan Belanda namun berselisih jalan.

            Akhirnya Belanda menuju ke Sidenreng. Pasukan Sidenreng mengadakan perlawanan yang gigih, tetapi dalam beberapa hari Sidenreng ditaklukkan. Belanda terus ke Maiwa dan Enrekang, dalam waktu seminggu kedua daerah tersebut ditundukkan.

Dari Enrekang, pasukan Belanda kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang Sawitto lewat Sidenreng dan Alitta. Karena pertimbangan perlengkapan perang, pasukan La Sinrang hanya mengadakan perlawanan disuatu tempat, dengan segera pula meninggalkan tempat itu. Taktik yang demikian ini cukup membuat pasukan Belanda memusatkan segala kekuatan dan pikirannya untuk menghadapi pasukan La Sinrang .

Sementara perlawana La Sinrang di LemoE yang berlangsung selama sehari penuh, akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Waktu itu pasukan La Sinrang mendapat bantuan dari Tallang dipimpin Andi Noni. Ketika itu pasukan Belanda melarikan diri kejurusan Alitta.

 

Perang Gerilya (10)

 

Selain perlawanan yang dilakukan La Sinrang dibeberapa daerah, juga dilakukan di Palirang membuat beberapa pasukan La Sinrang tewas, Toburrungang (Lome) Maccubbu, Tamara. Dan puncak perang adalah perang gerilya.

Perlawana pasukan La Sinrang di Toburrungang (Lome) terjadi sekitar tahun 1904 di bawah pimpinan La Pamassangi. Dalam pertempuran ini dibantu oleh La Mattinatte (Paccilo-ciloE dan saudaranya La Nanrang, beberapa anggota pasukan La Pamassangi tewas, luka-luka. Sedangka I dara dan Latingara (masing-masing istri dan ipar La Pamassangi) ditangkap Belanda.

Sementara perlawanan La Sinrang di Maccobbu, pasukan Belanda menyerang dengan tiba-tiba. La Sinrang bersama pasukannya yang lagi istrirahat pada malam hari, menyebabkan pertempuran di malam buta itu, pasukan La Sinrang berhasil berhasil merebut beberapa pucuk senjata, dan akhirnya dapat memukul mundur pasukan Belanda. Dalam pertempuran yang banyak menelan korban ini, La Sinrang nyaris menemui ajalnya tat kala terjatuh kedalam sumur mati bersama istrinya I Makkanyuma.

Sebelum tahun 1905, Belanda sudah mengadakan penyerangan dibeberapa kerajaan. Sedangkan penyerangan secara serentak dilakukan pada abad XX, yaitu tahun 1905. 19 Desember 1905 pasukan Belanda pimpinan Hamakers mengadakan operasi ke Maiwa, di daerahlah ini terjadi pertempuran dengan La Sinrang, seterusnya ke daerah Sawitto, Leppangeng, Bulo, Lereng-lereng, Langnga, dan lain-lain.

Setelah benteng pertahanan di Malimpung berhasil dierbut Belanda, La Sinrang bersama pasukannya mengadakan perang gerilya. La Sinrang setelah menyusun kekuatan menyerang Belanda di Suppan dan Jampue. Belandapun merubah taknik dengan “ Adu Domba di Kalangan raja-raja. Sasaran utamnya tidak saja ditujukan kepada Addatuang Sawitto, lebih-lebih lagi ditujukan kepada anak buah La Sinrang. Akibat politik Belanda ini, dalam istana timbul pertentangan pendapat, golongan pro dan kontra terhadap perjuangan La Sinrang.

Kesejahteraan rakyat Sawitto semakin merosot, kesempatan inilah dimanfaatkan Belanda untuk mematahkan semangat perlawanannya. Dengan tindakan kekerasan bersenjata, rakyat dikerahkan bekerja paksa membuka jalan baru dan saluran pengairan. Diantara kerja paksa rakyat Sawitto dan sekitarnya, adalah bendungan air Teppo, jalan Parepare dan Rappang.

Tanah milik rakyat diambil alih secara paksa untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa, tindakan sewenang-wenang dalam bentuk pemerasan dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Belanda melakukan pembunuhan karena selalu menderita kekalahan dan kegagalan menghadapi pasukan La Sinrang.

Menyaksikan hal ini, perlawanan La Sinrang pun semakin meingkat. Berusaha mempengaruhi rakyat untuk mengadaklan perlawanan dan pemberontakan. Pada tahun 1906 raja Gowa Sultan Husain bersama putranya I Pangnguriseng Arung Alitta dan saudaranya I Mangngimangi Karaeng Bontonompo lengkap dengan pasukan  tiba di Sawitto, mereka bekerja sama La Sinrang menentang Belanda.

Pihak Belanda mengetahui kehadiran Raja Gowa di Sawitto, mereka lalu melakukan serangan lebih hebat, namun tetap saja gagal menangkap La Sinrang maupun Raja Gowa. Bahkan, pada tanggal 16 Januari 1906 di Sawitto, kapten De Gruyter tewas.

Belanda yang menginginkan La Sinrang ditangkap, beberapa daerah didatangi, namun tidak juga berhasil menangkapnya. Seperti, di Malimpung, Tiroang. Namun, dipihak Belanda jatuh korban.

Belanda yang menempatkan tangsi ( asrama) di Langnga. Namun, sebelun pasukan La Sinrang menyerang, terlebih dahulu pemberani-pemberani langnga La Muhammad (Puanna Pokke) La Punggu (Puanna Panneke), Puanna Kula, Ambo Mau, dan Ambo Pati, melakukan serangan, namun tiga diantaranya tewas dalam tangsi. Ini meruapakan perlawanan peratam di Langnga menentang Belanda.

Perlawanan yang digunakan oleh pemberani, berupa peralatan tombak, keris, dan bila (senjata dari kayu berbentuk golok), dengan penyerangan dimalam hari. Perlawanan yang dilakukan itu didasari prinsip “ Lebbi Mui Matewe Naiya naparentae Balandae “. Berdasarkan prinsip inilah, sehingga pemberani memasuki tangsi Belanda yang terlebi dahulu mereka “ Si Talli “ yaitu mengadakan perjanjian untuk selalu dalam kebersamaan “ yang isinya, Risals Bulo Mallebu Allarie “ artinya “ dikebiri dengan bulu bundar bagi yang lari “.

Pada tanggal 8 Maret 1906 malam, tangsi Belanda di Langnga, kembali diserang oleh Pasukan La Sinrang dengan kekuatan sekitar 80 orang dari tiga arah. Pasukan Belanda yang mendapatkan bantuan dari kompi Collane dan battalion ke 9, setelah beberapa gugur dalam pertempuran dengan La Sinrang di tangsi. Maka, Langnga pun direbut kembali oleh Belanda. La Sinrang bersama pasukannya kembali melakukan perang gerilya.

Sementara perlawanan La Sinrang di Li’bukang pada awal tahun 1905 di bawah pimpinan La Nennung Daeng Pagessa Dan Wa’batjo Ali merupakan lanjutan pertemuan di RubaE. Serangan tiba-tiba oleh pasukan La sinrang di Li’bukang dimana pasukan Belanda yang sedang beristirahat, membuat Belanda kocar kacil dan melarikan diri menuju Sidenreng.

Guna mengimbangi serangan Belanda yang teratur dan bertubi-tubi, La Sinrang membuat benteng pertahanan di Corawali. Dalam pertempuran beberapa hari, benteng La Sinrang dijatuhkan oleh Belanda dibantu oleh rakyat Maiwa dari arah utara, dan dari arah barat pasukan Sidenrng bersama Belanda. La Sinrang bersama pasukannya kembali melakukan perang Gerilya.

 

Akhir Perlawanan La Sinrang (11)

 

            Setelah tentara Belanda sering dan bahkan hampir selalu menemui kegagalan dalam menghadapi La Sinrang bersama pasukannya, maka pada awal bulan Juli 1906, Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan bantuan untuk mematahkan perlawanan di kerajaan sawitto yang dirasakan semakin hebat. Pada saat itu Belanda menempatkan pasukannya disetiap daerah yang dikuasai dan dianggap strategis mempersempit ruang gerak La Sinrang dan pasukannya.

Strategis Belanda mempersempit gerak La Sinrang dan pasukannya dengan menempatkan pasukannya disetiap daerah yang dikuasainya. Tidak membuat La Sinrang dan pasukannya surut. Tetapi, justru serangan gencar danbertubi-tubi tetap dilakukan oleh La Sinrang dan Pasukannya, khususnya gerakan Passiuno.

Usaha-usaha Bealnda tidak membawa hasil, akhirnya megeluarkan maklumat bahwa, barang siapa dapat menangkap La Sinrang dalam keadaan hidup atau mati akan dinaikkan pangkatnya, begitu juga yang melakukan perlawanan, mendukung perjuangan atau menyembunyikan La Sinrang dan pasukannya akan diambil tindakan tegas berupa ancaman hukuman penjara, kerja paksa atau diasingkan ke pembuangan. Namun, itu juga gagal.

Belanda pun melakukan usaha dalam bentuk kekerasan yang dikuti penangkapan orang-orang penting kerajaan. Maka pada tanggal 25 Juli 1906, La Tamma Addatuang Sawitto ayah La Sinrang yang berusia lanjut itu ditangkap Belanda, maksudnya agar La sinrang dan pasukannya tidak lagi melakukan perlawanan.

Setelah Addatuang Sawitto merasakan kehidupan dalam tahanan, maka Addatuang sawitto memanggil Anre Guru La Nennung, untuk selanjutnya diperintahkan menyampaikan pesannya kepada La Sinrang.

Isi pesan tersebut adalah. Pertama, Agar La Sinrang segera menghentikan perlawanannya terhadp Belanda, karena pihak Belanda  tidak akan mungkin dihadapi. Dan selama La Sinrang mengadakan perlawanan, akibatnya adalah Addatuang Sawitto akan dibuang ketanah Jawa. Kedua, Jika La Sinrang ternyata tidak mau menghentikan perlawanannya, supaya membuat benteng setinggi rumah, dan Addatuang Sawitto bersama Belanda akan menghadapinya.

Selain Addatuang Sawitto, istri La Sinrang yaitu I Makkanyuma juga ditahan oleh Belanda di Kaliang, dan untuk menyampaikan berita ini kepada La Sinrang dipercayakan kepa Uwa’Tompo dan Guru Hamid.

Seteah dipikirkan secara seksama tentang segala akibat baik dan buruknya yang mungkin akan timbul jika ia melaporkan diri atau bertahan terus, terutama mengenai keselamatan Addatuang Sawitto.  Maka dengan sikap patriotismenya La Sinrang memilih jalan yang sangat berat baginya yaitu melaporkan diri demi keselamatan Sawitto.

Akhir bulan Juli 1906 datanglah La Sinrang bersama pasukannya yang berjumlah sekitar 100 orang melaporkan diri kepada Belanda di Pinrang. Maka saat itu pula Addatuang Sawitto dan istrinya I Makkanyumma dibebaskan oleh Belanda.

Setelah ditahan beberapa hari dipengasingan Banyumas, La Sinrang tuan Patoro mengajak La Sinrang ke Makassar, dengan alas an untukberkenalan dengan pembesar belanda. Ajaka tersebut diterima La Sinrang dengan syarat semua pasukannya harus ikut serta.

Dengnan menduga akan dibuang ke Jawa, La Sinrang mengusulkan kepada Addatuang sawitto agarkembali ke Pinrang (Sawitto) sebelum La Sinrang naik kapal. Ini diusulkan, karena dia bermaksud mengadakan perlawanan terakhir kepada Belanda agar tidak dibuang ke Jawa. Apalagi waktu itu La Sinrang tidak berpisah denngan kerisnya, begitu pula dengan pasukannya lengkap dengan peralatan perang.

Sikap La Sinrang yang lebih relah mati dalam perlawanan terhadap Belanda dari pada mati sebagai tawanan, tidak terlaksana karena usulnya tidak diterima Addatuang Sawitto. Ini berarti perlawanan terakhir dibatalkan dan dia dibung ke Jawa demi keselamatan kerajaan Sawitto.

 

La Sinrang Wafat

            Karena keyakinan Belanda atas pendirian dan jiwa kepahlawanan La Sinrang, maka selama dalam pengasingan La Sinrang dijaga ketat oleh Belanda. Setelah menjalani pengasingan selama 31 tahun yaitu tahun 1937 La Sinrang dalam keadaan sangat lemah dan tidak memungkinkan lagi melakukan perlawanan secara fisik.

            La Sinrang pun dikembalikan ke Sawitto, dan beberapa bekas pengawalnya/anggota pasukannya serta rakyat Sawitto datang mengunjunginya namun dia tidak mengenalinya lagi.     

 

Riwayat Hidup La Sinrang

Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto,  diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas ke atas (bulu sussang).

            Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan daripamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.

            Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang

            Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.

            Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.

            La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri.  Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.

            La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro darihasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.

            Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya

La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.

Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.

Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”

 

Sistem Pemerintahan Belanda (12)

 

            Penjajahan secara defacto telah menjadi umum begi pihak-pihak penjajah untuk melancarkan pengembaraannya di Indonesia dengan menumpangi wadah yang sengaja dibentuknya sendiri yaitu VOC. “ Sambil menyelam minum air “, Belanda berhasil memehami situasi penduduk dan kondisi geografis Indonesia sebagai sekeping surga diatas bumi ini, yang kaya akan sumber-sumber kehidupan manusia, berupa minyak dan gas termasuk bahan non migas lainnya, seperti rempah-rempah, mineral, protein.

Sebagai akibat Belanda terlanjur maju sebagaimana Negara-negara Eropa lainnya, hasrat untuk menjajah bangsa Indonesia yang dimulai dengan penyerangan secara fisik terhadap warga Indonesia saat itu. Pendudukan secara fisik merupakan kemenangan awal untuk mengadakan negosiasi dengan pihak Indonesia, secara terpaksa harus diterima.

Pada saat itulah Belanda mulai menanamkan kedaulatannya, setelah secara de yure kedua belah pihak (Belanda – Indonesia) terikat dalam suatu perjanjian. Hal demikain, dapat dilihat dengan antara kerajaan Gowa dengan pihak Kompeni yang dikenal perjanjian “Bongaya” tahun 1667. Sejak tahap itulah mulai memasuki tahapan kedua untuk lebih memperluas wilayah kekuasaannya di seluruh kepulauan yang jumlahnya kurang lebih 13.500 pulau besar dan kecil.

Tahun 1925 mula-mula di Jawa Madura kemudian di luar Madura diselenggarakan reorganisasi system pemerintahan local seluruhnya. Di Jawa Madura dibentuk 3 Gouvernement yaitu Sumatera, Borneo, Timur Besar sebagai daerah administrative, itu ditujukan kepada penduduk untuk turut serta dalam mengatur dan mengurus kepentingan-kepentingan local.

Belanda dalam mewujudkan keinginannya di Indonesia, ada daerah dibawah langsung pemerintahan pihak penjajah Belanda, juga bentuk pemerintahan yang sifatnya tidak dikuasai langsung oleh Belanda, yang dikenal dengan istilah indirect beat Bestuursgebiet, yang tetap berada dibawah kewenangan raja-raja atau Swapraja adalah berpangkal pada “ Lang Contract “ (Kontrak panjang) dan pernyataan pendek yang kesemuanya itu adalah perjanjian politik sebagai pasukan terhadap batas-batas otonomi bagi daerah Swapraja yang bersangkutan.

Dalam kontrak panjang yang merupakan pernyataan bersama antara Pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Gubernur di Makassar (Ujung Pandang) dengan tiap-tiap raja di sulawesi Selatan bersama para anggota hadatnya masing-masing.

Adanya usaha merobah kontrak panjang kearah kontrak pendek, ini yang dimulai tahun 1905, ketika Pemerintah Hindia Belanda melancarkan penjajahannya secara nyata dan sungguh-sungguh di Sulawesi Selatan. Dimana raja Bone diserang dan setelah mengalami pertempuran dengan memakan banyak korban. Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri ditangkap dan diasingkan ke Bandung pada akhir tahun 1905, yang menyebabkan raja Gowa I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumananga Ri Bundu



 

Agenda Kegiatan

Link










Aplikasi



Statistik


057974

hari ini : 6
Total : 16963
Hits hari ini : 24
Total Hits : 57974
Online : 1

Adminstration
© Copyright 2014 Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Pinrang
Powered By IT Kabupaten Pinrang